Tapi berbicara tentang alam
Tak luput dari apresiasi terhadap Sang Pencipta
Pernahkah terpikir olehmu betapa idealnya
rancangan Mahakarya Sang Pencipta?
Kalau belum, mari saya bantu mikir...
Ramuannya simpel :
Dimensi, Musikalisasi, Presisi, Sirkulasi, dan Integrasi
Kelimanya bertautan dengan panca indera kita,
Mahakarya-Nya yang agung,
Atau lebih tepatnya mengagungkan diri, saking sempurnanya
Jika dibandingkan dengan Ciptaan-Nya yang lain.
Atau paling tidak, begitu bukan, jalan pikiran ego-sentris kita?
Manusiawi, ya manusiawi, itulah semboyan kita
Maunya dimaklumi, tidak mau mengerti.
Maunya menang, yang penting senang.
Sekarang kembali ke alam
Kemana kita akan berpulang
Kini bersiaplah untuk introspeksi diri,
Karena kelima panca indera kita tak luput dari dosa.
Mata
Kutelanjangi kau dengan kamera HPku
Berkutat kucari angle yang pas
Untuk mengumbar keindahan tubuhmu
Yang memamerkan sisi eksotismu
Yang merangsang jempol-jempol untuk nge-like fotoku.
Entah karena bualan caption-ku
Atau karena keindahan parasmu
Nggak papa, pikirku dalam hati
Yang penting senang, menang followers.
-Dimensi-
Telinga
Satu-satunya bukti bahwa alam memiliki perasaan
Adalah nyanyiannya
Ketika Ia senang, ia akan berkokok di pagi buta
dan berkicau di pagi hari.
Namun ketika Ia murka,
bukan harmoni yang kita dengar.
melainkan perkusi dari musisi-musisi ganas
Dentuman demi dentuman halilintar memekakkan telinga,
mengusik April, Mei dan Juni, yang seharusnya syahdu.
-Musikalisasi-
Lidah
Dalam Alkitab tertulis kisah
Bahwa manusia diciptakan pada hari ke-enam
Didesain-Nyalah manusia bak rupa-Nya sendiri
Dan dianugerahkan-Nyalah rasa dunia ini
Manis, Pahit, Asin, Asam, Kecut, Getir
Secara bergantian menjajakkan diri
Demi memenuhi Pengetahuan dan Hawa Nafsu.
Pengetahuan haus akan rasa pahit, asin, asam, kecut dan getir.
Namun hanya satu yang dikejar Hawa Nafsu
Manis. Sempit sekali bukan?
Lain halnya jika frasa Hawa Nafsu duibah menjadi Ucapan Syukur
Satu-satunya zat yang mampu melebur rasa-rasa Pengetahuan
Dengan si Manis.
-Presisi-
Hidung
Di hari-hari yang baik, kubuka mataku menyambut pagi
Kuhirup udara segar dan wewangian bunga di depan rumah
Sembari membuka gerbang rumahku.
Di hari-hari yang sial, tetanggaku akan membangunkanku
dengan garirah membaranya
untuk memusnahkan sampah-sampah organik dan anorganik miliknya
Kobaran apinya sama membaranya
dengan pemikiran kolotnya yang menolak toleransi
Kubulatkan tekad untuk menemui sesepuh ini
Namun entah sial atau berkah,
hanya menantu paruh bayanya yang kudapat
Unggah-ungguh dan tata krama kuaplikasikan
Untuk melontarkan pertanyaan
"Kemanakah harus kuberlari,
ketika seluruh ruangan di rumahku diselimuti asap?"
Ini baru rumahku, bagaimana dengan dunia
yang merupakan satu-satunya rumah kita?
Sudikah kau menegur para parasit O2?
-Sirkulasi-
Tangan
Sungguh sempit maknanya,
apabila indera peraba hanya sekedar membelai tekstur alam
Proporsi yang seimbang hanya dapat dicapai mufakat
apabila otot-otot manusia pun ikut dikerahkan
Utuk keberlangsungan realsi yang damai antar para aktor alam raya ini.
Berikut adalah tiga bahan dasar untuk ramuan ini:
-Take and Give-
Jangan hanya mengambil,
tapi tanamlah kembali apa yang menjadi hak mereka.
Kamu bukan koruptor.
-Reap what you sow-
Karma itu nyata. Mau tahu kebenarannya?
Sering-sering buang botol di got.
-Win-Win Solution-
Orang yang ber-Tuhan yakin dan percaya
bahwa mereka adalah produk ciptaan-Nya.
Orang yang ber-Tuhan yakin dan percaya
bahwa mereka memiliki tujuan mulia dilahirkan di dunia
Maka jadilah orang-orang berguna
Yang tak menyia-nyiakan Kepercayaan-Nya
Ketika kita berpulang kepada-Nya
Toh kita akan kembali jadi tanah.
Namun bukan itu yang ingin kita tinggalkan di dunia ini
Hidup yang berbuah, atau hidup yang nista
Semua ada di tanganmu
-Integrasi-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar