Sabtu, 18 Juli 2015

Berlian Dalam Waktu



          Dalam kurun waktu sebulan ini, saya menghadiri tiga ibadah penghiburan dari dua orang terkasih kerabat gereja dan kuliah saya, serta salah seorang senior GMKI yang sangat hebat. Ketiga acara penghiburan tersebut memiliki nuansa atmosfir yang berebeda. Ada yang dipenuhi isak tangis dan pelukan, ada yang dipenuhi dgn warna-warna cerah, bunga-bunga indah dan keheningan, dan ada pula yang dipenuhi tangisan diiringi gelak tawa sembari mengenang kejadian-kejadian lucu peninggalan sang almarhum. Di tengah suasana penghiburan yang ramai dengan berbagai nada dan emosi, ada beberapa pertanyaan yang selalu muncul dalam kepala saya dalam kesendirian saya dan otak penasaran saya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut antara lain: "Seperti apa ya orang ini ketika ia hidup dulu?" dan "Apakah ia memiliki banyak teman?" Kedua pertanyaan tersebut akan langsung terjawab dengan reaksi luapan emosi para pelayat yang hadir. Tak berarti acara penghiburan yang sedikit tangisannya berarti almarhum adalah orang yang tidak populer dan kuper (kurang pergaulan sehingga hanya sedikit hal-hal superfisial saja yang dapat dikenang), dan sebaliknya acara penghiburan yang sarat tangisan dan pelukan mencerminkan betapa berharganya orang itu. Sederhananya, keheningan pun dapat diinterpretasikan sebagai ungkapan "keihklasan" dan "kepuasan" dalam mengimani kehendak Allah yang indah atas berpulangnya orang yang tercinta dan sekaligus "afirmasi" bahwa tugas dan tanggungjawabnya di dunia ini telah selesai dengan sempurna. Umpamanya, seperti seorang sarjana yang meraih prestasi "cum laude" untuk perjuangannya menempuh pendidikan yang penuh dengan nikmatnya perjuangan jatuh-bangun, tangisan frustasi dalam pengerjaan tugas akhir, dan akhirnya tawa puas atas keberhasilannya yang "extra-mile".
          Setelah kedua pertanyaan tersebut terjawab, otak saya terus mengejar logika dan hati nurani saya dengan pertanyaan paling mendasar yang bersifat "existentialism" dalam kaitannya dengan hidup yang berarti, yaitu "Untuk apa saya hidup?" dan "Mengapa saya harus berbuat baik? Apakah semata-mata karena surga dan neraka itu nyata adanya?"  Pertanyaan pertama ditanyakan oleh seorang pembawa firman di salah satu ibadah penghiburan tersebut. Ia memaparkan kontradiksi "hidup terarah dan bertujuan" dengan "kesia-siaan", melalui sharing  mengenai makna ayat-ayat dalam kitab Pengkhotbah 3: 1-11 yang berbunyi: “Ada waktu untuk berduka dan ada waktu untuk tertawa, untuk segala sesuatunya ada waktunya” . Sepenggal ayat tersebut menjawab pertanyaan mengenai WAKTU dan TUJUAN HIDUP serta kaitan paradoksikalnya dengan hidup yang tanpa arah. Saya pernah membayangkan, jika saya hilang di negeri antah berantah, dan hanya boleh membawa serta 2 hal dalam perjalanan saya, layaknya Captain Jack Sparrow dalam film Pirates of Caribbean, pastinya saya juga akan memilih kompas. Barang kedua adalah jam tangan, karena tanpa kedua hal tersebut saya bukan hanya akan kehilangan arah tujuan, tetapi juga pemenuhan target misi dalam waktu hidup saya akan terbuang sia-sia. Dan dalam kesia-siaan itu, misi untuk mencari nilai akan sesuatu yang berharga, ibarat berlian merah Moussaieff, (berlian termahal di dunia senilai 68 miliar rupiah yang diincar semua kalangan elit pecinta perhiasan di dunia) akan sirna. Ya, para elit tersebut memiliki visi dan misi. Visinya adalah berlian dengan berat 13,9 carat (2,78 gram) dan misinya adalah waktu, energi dan uang sebagai sebagian kecil pengorbanan yang harus mereka relakan untuk mencapai deal.
        Dan di sinilah saya, Anda dan jutaan manusia lainnya di dunia ini terbuai dalam lika-liku pencarian berlian pada waktu ‘singgah’ pemberian yang Maha-kuasa. Tentunya, berlian di sini merupakan metafora mengenai sesuatu yang berharga yang mengandung unsur relatifisme. Apa yang berharga bagi saya belum tentu berharga bagi Anda dan begitu pula sebaliknya. Namun satu hal yang pasti, tak ada satu pun di dunia ini yang berharga ketika “makna” tak memiliki definisi. Tak ada parameter yang jelas mengenai apa yang berharga dan yang apa yang tidak jika kita gagal memaknai eksistensi sesuatu. Karena pada dasarnya, bermakna, berarti dan berharga memiliki faedah perpadanan kata (bersifat sinonim terhadap satu sama lain).

           Martin Heidegger, penganut Nietzsche (filsuf ateis ternama yang dikenal sebagai pencetus 'the death of God'), merupakan filsuf ontoteologis dan ekistensialis ternama yang teori-teorinya masih diperdebatkan hingga dewasa ini. Terlahir dari keluarga Khatolik, ia sering terjebak dalam pertanyaan "What is being?" (apakah makna "ada"?), yang usut punya usut sampailah kepada titik "Apakah Allah ada?". Dalam bukunya yang berjudul The Birth of Tragedy, ia mengemukakan:

“If God as the suprasensory ground and goal of all reality is dead,
if the suprasensory world of the Ideas has suffered the loss of its obligatory
and above all its vitalizing and upbuilding power,
then nothing more remains to which man can cling and by which he can orient himself” (61). Now straying through an “infinite nothing,” we find ourselves faced with nihilism,
or “the confirmation that this Nothing is spreading out” (Heidegger 61).

Dalam teorinya di atas, ia memaparkan teori keterkaitan keberadaan Allah dengan lahirnya keberadaan manusia sebagai poros atau tujuan hidup manusia. Teori “keberadaan”-nya dapat menuai dua reaksi. Pertama, jika Allah itu ada (dan demikian halnya juga surga dan neraka), maka orientasi moralitas seseorang terpusat pada hadirnya Allah dengan kesadaran bahwa ajaran Tuhan wajib ditaati. Maka terjawablah sudah pertanyaan medasar "Untuk apa saya hidup?" dan "Mengapa saya harus berbuat baik? Apakah semata-mata karena surga dan neraka itu nyata adanya?" yang dikemukakan di awal tulisan ini.  Sebaliknya, kematian Allah akan menimbulkan dampak yang sangat destruktif dalam kekecewaan manusia ketika Ia menemukan bahwa Allah-nya “mati” (dapat ditafsirkan: tidak relevan atau tidak ada). Maka, keberadaan sebuah Allah di sini sangat penting karena ketiadaanya akan membawa kehancuran dan kehampaan bagi manusia yang telah kehilangan pegangan dan tujuan hidup. Membingungkan bukan? Rumusan logika di atas dapat disederhanakan dengan rumusan ini:

Jika [Allah + manusia = ada] maka [manusia – Allah = tidak ada]. 
dan [“ketiadaan” = nihilisme]

          Dalam pemahamaan filosofis saya, kata “ada” di sini tak semata-mata berarti “hidup”, namun lebih tepatnya “hidup bermakna”. Heidegger ingin menitikberatkan hubungan horizontal manusia dengan Tuhan ketimbang hubungan vertikal manusia dengan manusia atas kecenderungan individualisme dan atau ketergantungannya terhadap manusia lain sebagai makhluk sosial. Titik berat di mana Allah merupakan kekuatan suprasensory absolut penentu “keberadaan” seseorang menjadikan religi sebagai sarana penyebaran moralitas dan nilai-nilai agama dan di saat yang sama, pembunuh “kebermaknaan” manusia yang jika diruntuhkan oleh “ketiadaan Allah” tak ada bedanya dengan wabah penyesatan nihilisme semata. Masih membingungkan? Meninjau kembali teori di atas, Heidegger mencetuskan nosi yang lebih praktikal dalam bukunya Being and Time, 1927:

“It is only in full and uncompromising awareness of our own mortality
that life can take on any purposive meaning” (Heidegger, 1927)

Nah, teori praktis ini jauh lebih mudah dipahami karena parameter “ada” diukur dengan konsep fundamental ‘Dasein’ (dalam bahasa Jerman berarti “hadir”). Dasein mengkasifikasikan teori eksistensialisme Heidegger sebagai awareness of death (kesadaran akan kematian), yang memusatkan tujuan hidup seseorang atas manajemen waktu yang ia miliki dalam memprioritaskan misi hidup yang mulia. Misi mulia tersebut didasari oleh prinsip atau nilai-nilai moral yang dipegang semasa hidupnya. Terlepas dari agama atau paham apa yang kita miliki, pandangan ini sangat relevan dan dapat diaplikasikan oleh siapapun karena mengusung asas keselarasan moral dan logika ketimbang pemahaman konsep relatifisme benar-salah milik tiap agama. Dan dari situlah pemaknaan “hadir” terdefiniskan. Hadir tak sebatas ada, tetapi seseorang hadir karena memiliki TUJUAN dan ALASAN untuk hidup mengapresiasi kekuatan atau teori lain yang membuatnya “ada” di dunia, entah ia orang beragama atau penganut darwinisme.  Demikianlah kiranya tujuan dan alasan dijadikan berlian berharga yang disanjung dan dicari selayaknya berlian Moussaieff.

          Jika Anda termasuk dalam golongan hedonis YOLO (you only live once), yang akan melakukan apapun termasuk mengorbankan waktu, tenaga dan energi untuk mencari kebahagiaan semu duniawi, saatnya Anda menanyai diri Anda, apa yang membedakan diri Anda dengan Zombie? Eksistensi zombie terlahir dari virus, hal yang sangat dangkal dan ilmiah, bukan karena kekuatan absolut atau teori evolusi apapun. Zombie hanyalah seonggok mayat hidup tak berjiwa dan tak bertuan, yang mencari kenikmatan hidup dengan perannya sebagai pembunuh dan pemakan otak manusia (yang kalau dipikir-pikir kembali, bukan merupakan kenikmatan tetapi satu-satunya opsi untuk bertahan hidup). Hati-hati dan berjaga-jagalah sebab bisa jadi Anda adalah salah satu zombie tersebut. Ada zombie pendidikan, yaitu para penuntut ilmu dan pengajar yang lupa mengaplikasikan ilmu hebat yang ia timbun dalam otaknya. Ada pula zombie keadilan yang menegakkan keadilan untuk dirinya sendiri atas ratapan “gajiku kurang” dengan melicinkan jalan bagi para koruptor bejad. Tak ketinggalan, zombie “seniman” yang begitu sibuk mengeruk keindahan alam dengan meluncurkan karya-karya masterpiece mereka tanpa melirik tumpukan polusi yang mereka ciptakan sebagai fondasi kemegahan singgasana mereka yang maha-tinggi. Yang sungguh tak bermutu adalah zombie yang hanya eksis di mana ada pesta kemabukan materialisme, kerlap-kerlip dunia malam dan sorotan media sosial. Akhirnya yang paling agung dari semua zombie yang pernah ada, zombie kenabian tokoh agama yang –ampunilah mereka, lupa siapa mereka sebenarnya karena terlalu banyaknya topeng kemunafikan yang dipakai. Wujud asli mereka sudah lenyap termakan ulat belatung kebohongan, kekuasaan, ambisi dan kemuliaan yang melebihi Tuhan yang maha kuasa itu sendiri. Luar biasa betapa zombie-zombie yang dengan bebasnya berkeliaran di luar sana tega menyia-nyiakan waktu pemberian Pencipta alam semesta ini.

          Tidak salah untuk mencari kebahagiaan dalam hidup ini, namun alangkah lebih bermaknanya hidup kita apabila kita tidak hanya secara pasif menerima semua kenikmatan duniawi yang ada. Hidup akan menjadi jauh lebih berarti ketika kita menjadi subyek yang memiliki kontribusi aktif untuk pembangunan atau paling tidak kebaikan yang dapat dirasakan orang lain. Definisi “hadir” bagi saya adalah jika hidup ini memiliki DAMPAK yang berbanding lurus dengan hukum sebab-akibat keberadaan saya di dunia ini, entah itu bagi lingkungan hidup, bagi orang lain, kemajuan ekonomi bangsa, pendidikan atau bahkan sesepele memberi makan kepada anjing tetangga.  Jika Anda orang Muslim, maka hiduplah bertaqwa dengan menunaikan amal dan ibadah. Jika Anda orang Budha, hiduplah dengan menyebarkan kedamaian bagi alam serta jiwa-jiwa yang galau. Jika Anda orang Kristen atau Khatolik, hiduplah dengan menerapkan hukum kasih dalam hidup yang melayani. Jika Anda agnostic, hiduplah dengan keselarasan ajaran-ajaran mulia dari agama-agama yang ada untuk menciptakan perdamaian di dunia yang pluralis dan sekuler ini. Apapun prinsip nilai, ideologi, atau ajaran agama Anda, selaraskan identitas Anda dengan kapasitas profesi apapun yang anda miliki sekarang, dan “makna” kehidupan akan mencari Anda. Arahkanlah kompas kehidupan Anda kepada poros atau tujuan hidup Anda dan pasanglah alaram pada jam Anda untuk menargetkan langkah-langkah dimulainya perjuangan untuk mencari berlian dalam keterbatasan waktu Anda di dunia ini. Lalu tiap kali alaram Anda berbunyi, sangatlah penting untuk melakukan check and ballance. Check and ballance secara rutin berfungsi sebagai indikator pencapaian dalam meninjau sejauh mana progres yang sudah anda buat untuk merespons tujuan dan panggilan hidup Anda. Dan akhirnya ketika alaram panjang jam Anda menandakan sudah waktunya, Anda bisa bernapas lega karena berlian itu sudah ada dalam genggaman Anda. 

You only live once, but once is enough when you live it wisely.  
Time is money, but a more profound matter is time is MEANING,
 a meaning only you could create. 
Make your life matter.

 My clock arrow and compass points to this direction,
 where do yours?
          -D.E.N-