
Dalam kurun waktu sebulan ini, saya menghadiri tiga ibadah
penghiburan dari dua orang terkasih kerabat gereja dan kuliah saya, serta salah seorang senior GMKI yang sangat hebat. Ketiga acara penghiburan
tersebut memiliki nuansa atmosfir yang berebeda. Ada yang dipenuhi isak tangis
dan pelukan, ada yang dipenuhi dgn warna-warna cerah, bunga-bunga indah dan
keheningan, dan ada pula yang dipenuhi tangisan diiringi gelak tawa sembari
mengenang kejadian-kejadian lucu peninggalan sang almarhum. Di tengah suasana
penghiburan yang ramai dengan berbagai nada dan emosi, ada beberapa pertanyaan
yang selalu muncul dalam kepala saya dalam kesendirian saya dan otak penasaran saya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut
antara lain: "Seperti apa ya orang ini ketika ia hidup dulu?" dan
"Apakah ia memiliki banyak teman?" Kedua pertanyaan tersebut
akan langsung terjawab dengan reaksi luapan emosi para pelayat yang hadir. Tak
berarti acara penghiburan yang sedikit tangisannya berarti almarhum adalah
orang yang tidak populer dan kuper (kurang pergaulan sehingga hanya sedikit
hal-hal superfisial saja yang dapat dikenang), dan sebaliknya acara penghiburan
yang sarat tangisan dan pelukan mencerminkan betapa berharganya orang
itu. Sederhananya, keheningan pun dapat diinterpretasikan sebagai ungkapan
"keihklasan" dan "kepuasan" dalam mengimani kehendak Allah
yang indah atas berpulangnya orang yang tercinta dan sekaligus "afirmasi"
bahwa tugas dan tanggungjawabnya di dunia ini telah selesai dengan sempurna.
Umpamanya, seperti seorang sarjana yang meraih prestasi "cum laude"
untuk perjuangannya menempuh pendidikan yang penuh dengan nikmatnya perjuangan
jatuh-bangun, tangisan frustasi dalam pengerjaan tugas akhir, dan akhirnya tawa
puas atas keberhasilannya yang "extra-mile".
Setelah kedua pertanyaan
tersebut terjawab, otak saya terus mengejar logika dan hati nurani saya dengan
pertanyaan paling mendasar yang bersifat "existentialism" dalam
kaitannya dengan hidup yang berarti, yaitu "Untuk apa saya
hidup?" dan "Mengapa saya harus berbuat baik? Apakah semata-mata
karena surga dan neraka itu nyata adanya?"
Pertanyaan pertama ditanyakan oleh seorang pembawa firman di salah satu
ibadah penghiburan tersebut. Ia memaparkan kontradiksi "hidup terarah dan
bertujuan" dengan "kesia-siaan", melalui sharing mengenai makna ayat-ayat dalam kitab Pengkhotbah
3: 1-11 yang berbunyi: “Ada waktu untuk berduka dan ada waktu untuk
tertawa, untuk segala sesuatunya ada waktunya” . Sepenggal ayat tersebut
menjawab pertanyaan mengenai WAKTU dan TUJUAN HIDUP serta kaitan
paradoksikalnya dengan hidup yang tanpa arah. Saya pernah membayangkan, jika
saya hilang di negeri antah berantah, dan hanya boleh membawa serta 2 hal dalam
perjalanan saya, layaknya Captain Jack Sparrow dalam film Pirates of
Caribbean, pastinya saya juga akan memilih kompas. Barang kedua adalah jam
tangan, karena tanpa kedua hal tersebut saya bukan hanya akan kehilangan arah
tujuan, tetapi juga pemenuhan target misi dalam waktu hidup saya akan terbuang
sia-sia. Dan dalam kesia-siaan itu, misi untuk mencari nilai akan sesuatu
yang berharga, ibarat berlian merah Moussaieff, (berlian termahal di dunia
senilai 68 miliar rupiah yang diincar semua kalangan elit pecinta perhiasan di
dunia) akan sirna. Ya, para elit tersebut memiliki visi dan misi. Visinya
adalah berlian dengan berat 13,9 carat (2,78 gram) dan misinya adalah waktu,
energi dan uang sebagai sebagian kecil pengorbanan yang harus mereka relakan
untuk mencapai deal.
Dan di sinilah saya, Anda dan
jutaan manusia lainnya di dunia ini terbuai dalam lika-liku pencarian berlian
pada waktu ‘singgah’ pemberian yang Maha-kuasa. Tentunya, berlian di sini merupakan
metafora mengenai sesuatu yang berharga yang mengandung unsur
relatifisme. Apa yang berharga bagi saya belum tentu berharga bagi Anda dan begitu
pula sebaliknya. Namun satu hal yang pasti, tak ada satu pun di dunia ini yang
berharga ketika “makna” tak memiliki definisi. Tak ada parameter yang jelas
mengenai apa yang berharga dan yang apa yang tidak jika kita gagal memaknai
eksistensi sesuatu. Karena pada
dasarnya, bermakna, berarti dan berharga memiliki faedah perpadanan kata
(bersifat sinonim terhadap satu sama lain).
Martin Heidegger, penganut
Nietzsche (filsuf ateis ternama yang dikenal sebagai pencetus 'the death of
God'), merupakan filsuf ontoteologis dan ekistensialis ternama yang
teori-teorinya masih diperdebatkan hingga dewasa ini. Terlahir dari keluarga
Khatolik, ia sering terjebak dalam pertanyaan "What is being?"
(apakah makna "ada"?), yang usut punya usut sampailah kepada titik
"Apakah Allah ada?". Dalam bukunya yang berjudul The Birth of
Tragedy, ia mengemukakan:
“If God as the suprasensory ground and goal of all reality is
dead,
if the suprasensory world of the Ideas has suffered the loss
of its obligatory
and above all its vitalizing and upbuilding power,
then nothing more remains to which man can cling and by which
he can orient himself” (61). Now straying through an “infinite nothing,” we
find ourselves faced with nihilism,
or “the confirmation that this Nothing is spreading out”
(Heidegger 61).
Dalam
teorinya di atas, ia memaparkan teori keterkaitan keberadaan Allah dengan
lahirnya keberadaan manusia sebagai poros atau tujuan hidup manusia. Teori “keberadaan”-nya
dapat menuai dua reaksi. Pertama, jika Allah itu ada (dan demikian halnya juga
surga dan neraka), maka orientasi moralitas seseorang terpusat pada hadirnya
Allah dengan kesadaran bahwa ajaran Tuhan wajib ditaati. Maka terjawablah sudah
pertanyaan medasar "Untuk apa saya hidup?" dan "Mengapa saya
harus berbuat baik? Apakah semata-mata karena surga dan neraka itu nyata
adanya?" yang dikemukakan di awal tulisan ini. Sebaliknya, kematian Allah akan
menimbulkan dampak yang sangat destruktif dalam kekecewaan manusia ketika Ia
menemukan bahwa Allah-nya “mati” (dapat ditafsirkan: tidak relevan atau tidak ada).
Maka, keberadaan sebuah Allah di sini sangat penting karena ketiadaanya akan
membawa kehancuran dan kehampaan bagi manusia yang telah kehilangan pegangan
dan tujuan hidup. Membingungkan bukan? Rumusan logika di atas dapat
disederhanakan dengan rumusan ini:
Jika [Allah + manusia = ada] maka [manusia
– Allah = tidak ada].
dan [“ketiadaan” = nihilisme]
Dalam
pemahamaan filosofis saya, kata “ada” di sini tak semata-mata berarti “hidup”,
namun lebih tepatnya “hidup bermakna”. Heidegger ingin menitikberatkan hubungan
horizontal manusia dengan Tuhan ketimbang hubungan vertikal manusia dengan manusia
atas kecenderungan individualisme dan atau ketergantungannya terhadap manusia
lain sebagai makhluk sosial. Titik berat di mana Allah merupakan kekuatan suprasensory absolut penentu
“keberadaan” seseorang menjadikan religi sebagai sarana
penyebaran moralitas dan nilai-nilai agama dan di saat yang sama, pembunuh
“kebermaknaan” manusia yang jika diruntuhkan oleh “ketiadaan Allah” tak ada
bedanya dengan wabah penyesatan nihilisme
semata. Masih membingungkan? Meninjau kembali teori di atas, Heidegger
mencetuskan nosi yang lebih praktikal dalam bukunya Being and Time, 1927:
“It is only in full and uncompromising awareness of our own
mortality
that life can take on any purposive meaning” (Heidegger,
1927)
Nah,
teori praktis ini jauh lebih mudah dipahami karena parameter “ada” diukur
dengan konsep fundamental ‘Dasein’
(dalam bahasa Jerman berarti “hadir”). Dasein
mengkasifikasikan teori eksistensialisme Heidegger sebagai awareness of death (kesadaran akan kematian), yang memusatkan
tujuan hidup seseorang atas manajemen waktu yang ia miliki dalam
memprioritaskan misi hidup yang mulia. Misi mulia tersebut didasari oleh prinsip atau nilai-nilai
moral yang dipegang semasa hidupnya. Terlepas dari agama atau paham apa yang
kita miliki, pandangan ini sangat relevan dan dapat diaplikasikan oleh siapapun
karena mengusung asas keselarasan moral dan
logika ketimbang pemahaman konsep
relatifisme benar-salah milik tiap
agama. Dan dari situlah pemaknaan “hadir” terdefiniskan. Hadir tak sebatas ada,
tetapi seseorang hadir karena memiliki TUJUAN
dan ALASAN untuk hidup mengapresiasi kekuatan atau teori lain yang membuatnya “ada” di dunia, entah ia orang beragama
atau penganut darwinisme. Demikianlah kiranya tujuan dan alasan
dijadikan berlian berharga yang disanjung dan dicari selayaknya berlian Moussaieff.

Jika Anda termasuk dalam
golongan hedonis YOLO (you only live once), yang akan melakukan apapun termasuk
mengorbankan waktu, tenaga dan energi untuk mencari kebahagiaan semu duniawi, saatnya Anda menanyai diri Anda, apa yang membedakan diri Anda dengan Zombie? Eksistensi
zombie terlahir dari virus, hal yang sangat dangkal dan ilmiah, bukan karena
kekuatan absolut atau teori evolusi apapun. Zombie hanyalah seonggok mayat
hidup tak berjiwa dan tak bertuan, yang mencari kenikmatan hidup dengan
perannya sebagai pembunuh dan pemakan otak manusia (yang kalau dipikir-pikir
kembali, bukan merupakan kenikmatan tetapi satu-satunya opsi untuk bertahan
hidup). Hati-hati dan berjaga-jagalah sebab bisa jadi Anda adalah salah satu
zombie tersebut. Ada zombie pendidikan, yaitu para penuntut ilmu dan pengajar
yang lupa mengaplikasikan ilmu hebat yang ia timbun dalam otaknya. Ada pula zombie
keadilan yang menegakkan keadilan untuk dirinya sendiri atas ratapan “gajiku
kurang” dengan melicinkan jalan bagi para koruptor bejad. Tak ketinggalan,
zombie “seniman” yang begitu sibuk mengeruk keindahan alam dengan meluncurkan
karya-karya masterpiece mereka tanpa melirik tumpukan polusi yang mereka
ciptakan sebagai fondasi kemegahan singgasana mereka yang maha-tinggi. Yang
sungguh tak bermutu adalah zombie yang hanya eksis di mana ada pesta kemabukan
materialisme, kerlap-kerlip dunia malam dan sorotan media sosial. Akhirnya yang
paling agung dari semua zombie yang pernah ada, zombie kenabian tokoh agama
yang –ampunilah mereka, lupa siapa mereka sebenarnya karena terlalu banyaknya topeng
kemunafikan yang dipakai. Wujud asli mereka sudah lenyap termakan ulat belatung
kebohongan, kekuasaan, ambisi dan kemuliaan yang melebihi Tuhan yang maha kuasa
itu sendiri. Luar biasa betapa zombie-zombie yang dengan bebasnya berkeliaran
di luar sana tega menyia-nyiakan waktu pemberian Pencipta alam semesta ini.
Tidak salah untuk mencari
kebahagiaan dalam hidup ini, namun alangkah lebih bermaknanya hidup kita
apabila kita tidak hanya secara pasif menerima semua kenikmatan
duniawi yang ada. Hidup akan menjadi jauh lebih berarti ketika kita menjadi subyek
yang memiliki kontribusi aktif untuk pembangunan atau paling tidak kebaikan
yang dapat dirasakan orang lain. Definisi “hadir” bagi saya adalah jika hidup
ini memiliki DAMPAK yang berbanding
lurus dengan hukum sebab-akibat keberadaan saya di dunia ini, entah itu bagi
lingkungan hidup, bagi orang lain, kemajuan ekonomi bangsa, pendidikan atau
bahkan sesepele memberi makan kepada anjing tetangga. Jika Anda orang Muslim, maka hiduplah bertaqwa
dengan menunaikan amal dan ibadah. Jika Anda orang Budha, hiduplah dengan
menyebarkan kedamaian bagi alam serta jiwa-jiwa yang galau. Jika Anda orang Kristen atau
Khatolik, hiduplah dengan menerapkan hukum kasih dalam hidup yang melayani. Jika Anda agnostic, hiduplah
dengan keselarasan ajaran-ajaran mulia dari agama-agama yang ada untuk
menciptakan perdamaian di dunia yang pluralis dan sekuler ini. Apapun prinsip
nilai, ideologi, atau ajaran agama Anda, selaraskan identitas Anda dengan
kapasitas profesi apapun yang anda miliki sekarang, dan “makna” kehidupan akan
mencari Anda. Arahkanlah kompas kehidupan Anda kepada poros atau tujuan hidup
Anda dan pasanglah alaram pada jam Anda untuk menargetkan langkah-langkah dimulainya
perjuangan untuk mencari berlian dalam keterbatasan waktu Anda di dunia ini.
Lalu tiap kali alaram Anda berbunyi, sangatlah penting untuk melakukan check and ballance. Check and ballance secara rutin berfungsi
sebagai indikator pencapaian dalam meninjau sejauh mana progres yang sudah anda
buat untuk merespons tujuan dan panggilan hidup Anda. Dan akhirnya ketika
alaram panjang jam Anda menandakan sudah waktunya, Anda bisa bernapas
lega karena berlian itu sudah ada dalam genggaman Anda.
You only live once, but once is enough when
you live it wisely.
Time is money,
but a more profound matter is time is MEANING,
a meaning only you could create.
Make your life matter.
My clock arrow and compass points to this direction,
where do yours?
-D.E.N-