“Sesungguhnya, seorang raja akan
memerintah menurut kebenaran, dan pemimpin-pemimpin akan memimpin menurut
keadilan”. Yesaya 32: 1
Jika Anda pernah membayangkan
diri Anda sebagai presiden pasti yang terlintas di benak Anda adalah kemewahan,
kemudahan hidup, reputasi yang cemerlang dan nikmatnya hal-hal duniawi lain
yang begitu menggiurkan. Namun pernahkah terlintas di benak Anda mengenai
tanggung jawab besar yang mereka emban?
Yesaya mencoba memaparkan koneksi
antara sebuah kedudukan atau posisi dan kebernaran firman Tuhan. Seorang raja
atau presiden, dan aparat pemerintahan yang mencakup badan peradilan Negara (MK
contohya) memang merupakan posisi yang prestigious,
namun segala kemudahan dan kemewahan yang mereka dapatkan sama berbobotnya
dengan tugas Negara diemban. Posisi mereka menentukan nasib jutaan orang. Kepercayaan
rakyat terhadap sosok-sosok yang “di atas”, didasari oleh keyakinan bahwa
pemimpin-pemimpin mereka memiliki hati yang benar dan pemikiran yang adil. Sayangnya,
di negeri tercinta kita ini, korupsi seolah sudah menjadi fenomena yang biasa.
Kita tidak perlu menunggu sampai
kita berada pada jabatan atau posisi yang penting untuk melakukan keadilan dan
kebenaran. Benar adanya bahwa semakin tinggi sebuah jabatan, semakin banyak
pula godaan untuk korupsi, berbohong, curang, dll. Namun saat ini pun, setiap
harinya kita selalu diperhadapkan ke dua pilihan, yang benar dan yang salah.
Sebuah posisi tanpa iman yang teguh akan begitu mudah diperhamba oleh kemewahan
duniawi. Hendaklah kita memikirkan dampak dari setiap keputusan kita bagi orang
lain dan juga bagi hati Tuhan.
“Life isn’t fair, but you and I shoud be” -anonymous
Doa: Tuhan, ajar kami agar kami
bisa memegang teguh iman kami dengan segenap keadilan dan kebenaran yang telah
Kau ajarkan kepada kami di dunia yang cemar ini.
